NAFED, Information Center
Woven textile products of cotton are one of the groups of Textile and Textile Products (TTP), consisting of textile, garments and other textile products, made of cotton. Due to the wide variety of products include in this group, we limit the category of woven textile products of cotton to 4 digit HS (Harmonized System) and 3 digit SITC (Standard International Trade Classification)
In international trade, several importing countries impose quota system for importing TTP products, which limit the amount of certain categories of TTP products that are allowed to be imported into those countries. Therefore, exports of TTP products to Quota Countries are regulated by the Government through the Decree of Minister of Industry and Trade No. 02/MPP/Kep/I/2001. According to the Decree, companies, which can export Quota TTP products are Registered Exporters for Textile and Textile Products. Exports to Non-Quota Countries are not regulated. Thus, its exports can be carried out based on general procedures in export and can be carried out by companies, which have obtained business license from Technical Department of Non Departmental Institution, according the valid laws and regulations, and have also obtained Company Registration Number.
Sabtu, 03 November 2007
BI dan SEM luncurkan 10 sektor unggulan UKM
oleh : Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis.com, 25 Oktober 2007
JAKARTA : Bank Indonesia dan lembaga riset SEM Institute meluncurkan hasil penelitian 10 sektor unggulan usaha kecil dan menengah di DKI Jakarta.
Kesepuluh sektor unggulan tersebut mencakup hotel (pariwisata), suku cadang otomotif (perdagangan), barang elektronik (perindustrian), swalayan minimarket (perdagangan).
Selanjutnya, restoran (pariwisata), bengkel mobil (jasa), angkutan kapal motor (transportasi), mebel (perindustrian), dan bahan bangunan (perdagangan).
“Penelitian ini melibatkan 255 orang responden pejabat pemerintah, perbankan, asosiasi usaha kecil dan perguruan tinggi,” ujar Ekoludi Cahyadi, peneliti pada SEM Institute saat mempresentasikan hasil penelitian Pengembangan Komoditas Unggulan di Jakarta hari ini.
Komoditas, produk dan jenis usaha (KPJU) unggulan dirumuskan dengan tunjuan utama sebagai instrumen penciptaan lapangan kerja (0,587), peningkatan daya saing (0,272) dan pertumbuhan ekonomi (0,142).
KPJU juga dirumuskan dengan mempertimbangkan 11 kriterian, mencakup manajemen usaha (0,136), tenaga kerja terlatih (0,135), penyerapan tenaga kerja (0,128), peluang pasar (0,111), dan harga (0,183).
Selanjutnya, teknologi (0,082), modal (0,077), sosial budaya (0,076), sumbangan terhadap perekonomian daerah (0,067) sarana produksi (0,063) dan bahan baku (0,041).
Penetapan urutan kesepuluh sektor unggulan tersebut didasarkan pada penghitungan bobot peringkat komoditas unggulan di lima kota di DKI Jakarta. (ln)
Bisnis.com, 25 Oktober 2007
JAKARTA : Bank Indonesia dan lembaga riset SEM Institute meluncurkan hasil penelitian 10 sektor unggulan usaha kecil dan menengah di DKI Jakarta.
Kesepuluh sektor unggulan tersebut mencakup hotel (pariwisata), suku cadang otomotif (perdagangan), barang elektronik (perindustrian), swalayan minimarket (perdagangan).
Selanjutnya, restoran (pariwisata), bengkel mobil (jasa), angkutan kapal motor (transportasi), mebel (perindustrian), dan bahan bangunan (perdagangan).
“Penelitian ini melibatkan 255 orang responden pejabat pemerintah, perbankan, asosiasi usaha kecil dan perguruan tinggi,” ujar Ekoludi Cahyadi, peneliti pada SEM Institute saat mempresentasikan hasil penelitian Pengembangan Komoditas Unggulan di Jakarta hari ini.
Komoditas, produk dan jenis usaha (KPJU) unggulan dirumuskan dengan tunjuan utama sebagai instrumen penciptaan lapangan kerja (0,587), peningkatan daya saing (0,272) dan pertumbuhan ekonomi (0,142).
KPJU juga dirumuskan dengan mempertimbangkan 11 kriterian, mencakup manajemen usaha (0,136), tenaga kerja terlatih (0,135), penyerapan tenaga kerja (0,128), peluang pasar (0,111), dan harga (0,183).
Selanjutnya, teknologi (0,082), modal (0,077), sosial budaya (0,076), sumbangan terhadap perekonomian daerah (0,067) sarana produksi (0,063) dan bahan baku (0,041).
Penetapan urutan kesepuluh sektor unggulan tersebut didasarkan pada penghitungan bobot peringkat komoditas unggulan di lima kota di DKI Jakarta. (ln)
BI dan SEM luncurkan 10 sektor unggulan UKM
oleh : Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis.com, 25 Oktober 2007
JAKARTA : Bank Indonesia dan lembaga riset SEM Institute meluncurkan hasil penelitian 10 sektor unggulan usaha kecil dan menengah di DKI Jakarta.
Kesepuluh sektor unggulan tersebut mencakup hotel (pariwisata), suku cadang otomotif (perdagangan), barang elektronik (perindustrian), swalayan minimarket (perdagangan).
Selanjutnya, restoran (pariwisata), bengkel mobil (jasa), angkutan kapal motor (transportasi), mebel (perindustrian), dan bahan bangunan (perdagangan).
“Penelitian ini melibatkan 255 orang responden pejabat pemerintah, perbankan, asosiasi usaha kecil dan perguruan tinggi,” ujar Ekoludi Cahyadi, peneliti pada SEM Institute saat mempresentasikan hasil penelitian Pengembangan Komoditas Unggulan di Jakarta hari ini.
Komoditas, produk dan jenis usaha (KPJU) unggulan dirumuskan dengan tunjuan utama sebagai instrumen penciptaan lapangan kerja (0,587), peningkatan daya saing (0,272) dan pertumbuhan ekonomi (0,142).
KPJU juga dirumuskan dengan mempertimbangkan 11 kriterian, mencakup manajemen usaha (0,136), tenaga kerja terlatih (0,135), penyerapan tenaga kerja (0,128), peluang pasar (0,111), dan harga (0,183).
Selanjutnya, teknologi (0,082), modal (0,077), sosial budaya (0,076), sumbangan terhadap perekonomian daerah (0,067) sarana produksi (0,063) dan bahan baku (0,041).
Penetapan urutan kesepuluh sektor unggulan tersebut didasarkan pada penghitungan bobot peringkat komoditas unggulan di lima kota di DKI Jakarta. (ln)
Bisnis.com, 25 Oktober 2007
JAKARTA : Bank Indonesia dan lembaga riset SEM Institute meluncurkan hasil penelitian 10 sektor unggulan usaha kecil dan menengah di DKI Jakarta.
Kesepuluh sektor unggulan tersebut mencakup hotel (pariwisata), suku cadang otomotif (perdagangan), barang elektronik (perindustrian), swalayan minimarket (perdagangan).
Selanjutnya, restoran (pariwisata), bengkel mobil (jasa), angkutan kapal motor (transportasi), mebel (perindustrian), dan bahan bangunan (perdagangan).
“Penelitian ini melibatkan 255 orang responden pejabat pemerintah, perbankan, asosiasi usaha kecil dan perguruan tinggi,” ujar Ekoludi Cahyadi, peneliti pada SEM Institute saat mempresentasikan hasil penelitian Pengembangan Komoditas Unggulan di Jakarta hari ini.
Komoditas, produk dan jenis usaha (KPJU) unggulan dirumuskan dengan tunjuan utama sebagai instrumen penciptaan lapangan kerja (0,587), peningkatan daya saing (0,272) dan pertumbuhan ekonomi (0,142).
KPJU juga dirumuskan dengan mempertimbangkan 11 kriterian, mencakup manajemen usaha (0,136), tenaga kerja terlatih (0,135), penyerapan tenaga kerja (0,128), peluang pasar (0,111), dan harga (0,183).
Selanjutnya, teknologi (0,082), modal (0,077), sosial budaya (0,076), sumbangan terhadap perekonomian daerah (0,067) sarana produksi (0,063) dan bahan baku (0,041).
Penetapan urutan kesepuluh sektor unggulan tersebut didasarkan pada penghitungan bobot peringkat komoditas unggulan di lima kota di DKI Jakarta. (ln)
Industri Gula Kelapa Purbalingga telah Merambah Ekspor
Suara Merdeka, Kamis, 27 September 2007
SENTRA produksi gula kelapa di Kabupaten Purbalingga cukup potensial untuk dikembangkan. Hampir di setiap desa di 18 kecamatan tersebar sentra produksi gula kelapa. Sentra produksi cukup besar berada di Kecamatan Mrebet, Kutasari, Bojongsari, Kemangkon, Bobotsari, Pengadegan, Kejobong, Rembang, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, Bukateja dan Kalimanah. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Purbalingga, tahun 2007 terdapat 18.000 lebih unit usaha gula kelapa. Jumlah ini, menurut Kepala Disperindakop Ir Gunarto, 52.7 persen dari total usaha industri di Kabupaten Purbalingga yang seluruhnya mencapai 34.000 unit. ''Penyerapan tenaga kerja di sektor informal ini, cukup besar mencapai 37.254 orang. Sementara untuk tiap unit usaha produksinya berkisar 3-8 kg per hari. Jika diambil rata-rata 4 kg, maka jumlah produksi gula kelapa di Purbalingga sebesar 72.224 kg per hari atau lebih dari 2 juta kg per bulan,'' jelas dia saat kunjungan sejumlah wartawan bersama BIKK Provinsi Jateng ke Purbalingga baru-baru ini.
Jangkauan pasar produk gula kelapa dari Kabupaten Purbalingga, kini semakin luas hingga merambah ke luar daerah. Seperti Bandung, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya, bahkan diekspor ke Malaysia, Singapura, Amerika dan beberapa negara Timur Tengah. ''Salah satu eksporter dari Cirebon, bahkan minta peningkatan volume pengiriman dan diversifikasi produk, terutama dalam bentuk serbuk dan gula cetak 1,5 hingga 2 ton per minggu,'' tambah Kepala Bidang Perindustrian Disperindakop Mukodam SPt.
Diversifikasi
Diversifikasi produk ini, lanjut dia, penting dilakukan agar konsumen memiliki banyak pilihan. Gula kelapa kristal misalnya, bisa dipakai untuk konsumsi minuman menggantikan gula pasir, pengganti meses pada roti tawar. Gula kelapa cair yang dikembangkan bekerja sama dengan Jurusan Teknologi Pengolahan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto, juga dinilai lebih praktis. Sementara yang dikemas dalam bentuk serbuk, biasanya untuk konsumsi ritel, hotel atau restoran.
Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko MSi memberi perhatian serius dalam pengembangan industri kelapa ini. Mengingat penderes memiliki risiko kerja cukup tinggi, Pemkab pun memberikan santunan (bantuan ekonomi produktif) bagi penderes yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon kelapa. ''Kebijakan Peraturan Bupati Purbalingga No 45/ 2007 ini, mulai berlaku Juli 2007, dan penderes yang meninggal dunia akibat kecelakaan mendapat santunan Rp 5 juta, cacat tetap Rp 2,5 juta, dan rawat inap Rp 1,5 juta,'' papar Mukodam.
Dengan diresmikannya Purbalingga UKM Center 8 September lalu, diharapkan bisa memfasilitasi pengembangan UKM, termasuk perajin gula kelapa untuk memasarkan, baik ke jaringan retail maupun ekspor. Pemkab juga tengah mengembangkan pilot project pengolahan gula kelapa secara terpadu, sehingga bisa didapat kualitas yang lebih baik, bersih dan higienis.
Tahun 2008, ditargetkan terbentuk 10 kelompok (unit) pengolahan gula secara terpadu. Saat ini sudah terbentuk di Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, Desa Sangkanayu, Binangun, dan Bojong di Kecamatan Mrebet, Desa Makam dan Tanalum di Kecamatan Rembang. (Modesta Fiska-33)
SENTRA produksi gula kelapa di Kabupaten Purbalingga cukup potensial untuk dikembangkan. Hampir di setiap desa di 18 kecamatan tersebar sentra produksi gula kelapa. Sentra produksi cukup besar berada di Kecamatan Mrebet, Kutasari, Bojongsari, Kemangkon, Bobotsari, Pengadegan, Kejobong, Rembang, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, Bukateja dan Kalimanah. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Purbalingga, tahun 2007 terdapat 18.000 lebih unit usaha gula kelapa. Jumlah ini, menurut Kepala Disperindakop Ir Gunarto, 52.7 persen dari total usaha industri di Kabupaten Purbalingga yang seluruhnya mencapai 34.000 unit. ''Penyerapan tenaga kerja di sektor informal ini, cukup besar mencapai 37.254 orang. Sementara untuk tiap unit usaha produksinya berkisar 3-8 kg per hari. Jika diambil rata-rata 4 kg, maka jumlah produksi gula kelapa di Purbalingga sebesar 72.224 kg per hari atau lebih dari 2 juta kg per bulan,'' jelas dia saat kunjungan sejumlah wartawan bersama BIKK Provinsi Jateng ke Purbalingga baru-baru ini.
Jangkauan pasar produk gula kelapa dari Kabupaten Purbalingga, kini semakin luas hingga merambah ke luar daerah. Seperti Bandung, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya, bahkan diekspor ke Malaysia, Singapura, Amerika dan beberapa negara Timur Tengah. ''Salah satu eksporter dari Cirebon, bahkan minta peningkatan volume pengiriman dan diversifikasi produk, terutama dalam bentuk serbuk dan gula cetak 1,5 hingga 2 ton per minggu,'' tambah Kepala Bidang Perindustrian Disperindakop Mukodam SPt.
Diversifikasi
Diversifikasi produk ini, lanjut dia, penting dilakukan agar konsumen memiliki banyak pilihan. Gula kelapa kristal misalnya, bisa dipakai untuk konsumsi minuman menggantikan gula pasir, pengganti meses pada roti tawar. Gula kelapa cair yang dikembangkan bekerja sama dengan Jurusan Teknologi Pengolahan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto, juga dinilai lebih praktis. Sementara yang dikemas dalam bentuk serbuk, biasanya untuk konsumsi ritel, hotel atau restoran.
Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko MSi memberi perhatian serius dalam pengembangan industri kelapa ini. Mengingat penderes memiliki risiko kerja cukup tinggi, Pemkab pun memberikan santunan (bantuan ekonomi produktif) bagi penderes yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon kelapa. ''Kebijakan Peraturan Bupati Purbalingga No 45/ 2007 ini, mulai berlaku Juli 2007, dan penderes yang meninggal dunia akibat kecelakaan mendapat santunan Rp 5 juta, cacat tetap Rp 2,5 juta, dan rawat inap Rp 1,5 juta,'' papar Mukodam.
Dengan diresmikannya Purbalingga UKM Center 8 September lalu, diharapkan bisa memfasilitasi pengembangan UKM, termasuk perajin gula kelapa untuk memasarkan, baik ke jaringan retail maupun ekspor. Pemkab juga tengah mengembangkan pilot project pengolahan gula kelapa secara terpadu, sehingga bisa didapat kualitas yang lebih baik, bersih dan higienis.
Tahun 2008, ditargetkan terbentuk 10 kelompok (unit) pengolahan gula secara terpadu. Saat ini sudah terbentuk di Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, Desa Sangkanayu, Binangun, dan Bojong di Kecamatan Mrebet, Desa Makam dan Tanalum di Kecamatan Rembang. (Modesta Fiska-33)
Minggu, 02 September 2007
Siap2 Launching UKMCENTER
Saat ini, kamid ari tim Purbalingga UKMCENTER, sedang konsentrasi penuh mempersiapkan Launching tanggal 8 September 2007. InsyaAllah Purbalingga UKMCENTER akan diresmikan langsung oleh Bapak Bupati tercinta, Drs. H. Triyono Budi Sasongko.
Semoga berjalan lancar dan sukses!
Purbalingga UKMCENTER
Jl. Pujowiyoto No. 19 Purbalingga
Telp/Fax. 0281-896270 (masih numpang BMT EMAS)
Semoga berjalan lancar dan sukses!
Purbalingga UKMCENTER
Jl. Pujowiyoto No. 19 Purbalingga
Telp/Fax. 0281-896270 (masih numpang BMT EMAS)
Langganan:
Postingan (Atom)