Suara Merdeka, Kamis, 27 September 2007
SENTRA produksi gula kelapa di Kabupaten Purbalingga cukup potensial untuk dikembangkan. Hampir di setiap desa di 18 kecamatan tersebar sentra produksi gula kelapa. Sentra produksi cukup besar berada di Kecamatan Mrebet, Kutasari, Bojongsari, Kemangkon, Bobotsari, Pengadegan, Kejobong, Rembang, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol, Bukateja dan Kalimanah. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Purbalingga, tahun 2007 terdapat 18.000 lebih unit usaha gula kelapa. Jumlah ini, menurut Kepala Disperindakop Ir Gunarto, 52.7 persen dari total usaha industri di Kabupaten Purbalingga yang seluruhnya mencapai 34.000 unit. ''Penyerapan tenaga kerja di sektor informal ini, cukup besar mencapai 37.254 orang. Sementara untuk tiap unit usaha produksinya berkisar 3-8 kg per hari. Jika diambil rata-rata 4 kg, maka jumlah produksi gula kelapa di Purbalingga sebesar 72.224 kg per hari atau lebih dari 2 juta kg per bulan,'' jelas dia saat kunjungan sejumlah wartawan bersama BIKK Provinsi Jateng ke Purbalingga baru-baru ini.
Jangkauan pasar produk gula kelapa dari Kabupaten Purbalingga, kini semakin luas hingga merambah ke luar daerah. Seperti Bandung, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya, bahkan diekspor ke Malaysia, Singapura, Amerika dan beberapa negara Timur Tengah. ''Salah satu eksporter dari Cirebon, bahkan minta peningkatan volume pengiriman dan diversifikasi produk, terutama dalam bentuk serbuk dan gula cetak 1,5 hingga 2 ton per minggu,'' tambah Kepala Bidang Perindustrian Disperindakop Mukodam SPt.
Diversifikasi
Diversifikasi produk ini, lanjut dia, penting dilakukan agar konsumen memiliki banyak pilihan. Gula kelapa kristal misalnya, bisa dipakai untuk konsumsi minuman menggantikan gula pasir, pengganti meses pada roti tawar. Gula kelapa cair yang dikembangkan bekerja sama dengan Jurusan Teknologi Pengolahan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto, juga dinilai lebih praktis. Sementara yang dikemas dalam bentuk serbuk, biasanya untuk konsumsi ritel, hotel atau restoran.
Bupati Purbalingga Drs H Triyono Budi Sasongko MSi memberi perhatian serius dalam pengembangan industri kelapa ini. Mengingat penderes memiliki risiko kerja cukup tinggi, Pemkab pun memberikan santunan (bantuan ekonomi produktif) bagi penderes yang mengalami kecelakaan jatuh dari pohon kelapa. ''Kebijakan Peraturan Bupati Purbalingga No 45/ 2007 ini, mulai berlaku Juli 2007, dan penderes yang meninggal dunia akibat kecelakaan mendapat santunan Rp 5 juta, cacat tetap Rp 2,5 juta, dan rawat inap Rp 1,5 juta,'' papar Mukodam.
Dengan diresmikannya Purbalingga UKM Center 8 September lalu, diharapkan bisa memfasilitasi pengembangan UKM, termasuk perajin gula kelapa untuk memasarkan, baik ke jaringan retail maupun ekspor. Pemkab juga tengah mengembangkan pilot project pengolahan gula kelapa secara terpadu, sehingga bisa didapat kualitas yang lebih baik, bersih dan higienis.
Tahun 2008, ditargetkan terbentuk 10 kelompok (unit) pengolahan gula secara terpadu. Saat ini sudah terbentuk di Desa Talagening Kecamatan Bobotsari, Desa Sangkanayu, Binangun, dan Bojong di Kecamatan Mrebet, Desa Makam dan Tanalum di Kecamatan Rembang. (Modesta Fiska-33)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar